Senin, 02 Juli 2012

CAPITAL ASSET PRICING MODEL


 CAPITAL ASSET PRICING MODEL
·        Pengertian Capital Asset Pricing Model (CAPM)  
Capital Asset Pricing Model (CAPM) merupakan model untuk menentukan harga suatu asset. Model ini mendasarkan diri pada kondisi ekuilibrium. Dalam keadaan ekuilibrium, tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal untuk suatu saham akan dipengaruhi oleh risiko saham.

1.1       Asumsi-Asumsi Yang Mendasari Standart Capital Asset Pricing Model
1.   Tidak ada biaya transaksi.
2.   Investasi  sepenuhnya bisa dipecah-pecah (fully divisible).
3.   Tidak ada pajak penghasilan bagi para pemodal.
4.   Para pemodal tidak bisa mempengaruhi harga saham dengan tindakan membeli atau menjual saham.
5.   Para pemodal akan bertindak semata-mata atas pertimbangan expected value dan deviasi standar tingkat keuntungan portofolio.
6.   Para pemodal bisa melakukan short sales.
7.   Terdapat riskless lending and borrowing rate, sehingga pemodal bisa menyimpan dan meminjam dengan tingkat bunga yang sama.
8.   Pemodal mempunyai pengharapan yang homogen.
9.   Semua aktiva bisa diperjual-belikan.
Untuk merumuskan standard CAPM, kita akan menempuh dua pendekatan yaitu :
1.   Menggunakan pendekatan common sense.
2.   Menggunakan pembuktian matematis formal.

1.2       Penurunan Risiko Karena Diversifikasi
Kita tahu bahwa diversifikasi akan mengurangi risiko apabila kita menambah jumlah jenis saham dalam suatu portofolio. Semakin kecil fluktuasi tingkat keuntungan yang diukur dari deviasi standar portofolio tersebut. Risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi ini disebut sebagai risiko sistematis. Sedangkan risiko yang bisa dihilangkan dengan diversifikasi disebut sebagai risiko tidak sistematis. Penjumlahan kedua jenis risiko tersebut sebagai risiko total.
Risiko sistematis disebut juga sebagai risiko pasar (market risk). Disebut risiko pasar karena fluktuasi ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi semua perusahaan yang beroperasi. Faktor-faktor tersebut misalnya : kondisi perekonomian, kebijaksanaan pajak.

1.3       Batasan Diversivikasi
Risiko suatu portofolio tergantung antara lain pada variance masing-masing saham dan covariance tingkat keuntungan antar saham-saham tersebut. Marilah kita perhatikan gambar 1.2. Kotak yang berwarna hitam menunjukkan variance tingkat keuntungan suatu saham. Sedangkan yang berwarna putih, menunjukkan covariance antara suatu saham dengan saham lain. Kotak putih pada baris ke-2 dan kolom ke-1 menunjukkan covariance saham 2 dengan saham 1. Kotak putih baris 3 dengan kolom 2, menunjukkan covariance saham 3 dengan saham 2, dan seterusnya.


1
2
3
4
5
6

N
1








2









Saham
 
3








4








5








6

















N









Gambar 1.2
 



Apabila terdapat proporsi investasi yang sama dengan jumlah N saham, maka proporsi yang diinvestasikan pada masing-masing saham adalah 1/N. Dengan demikian dalam setiap kotak variance mempunyai (1/N)² dikalikan dengan variance, dan pada setiap kotak covariance mempunyai (1/N)² dikalikan dengan covariance. Karena ada N kotak variance dan N² - N kotak covariance, maka :

Variance portofolio  = N(1/N)² X rata-rata variance + (N² - N) (1/N)² X rata-rata covariance
                                = 1/N X rata-rata variance + (1 – 1/N) X rata-rata covariance

1.4       Bagaimana Suatu Saham Mempengaruhi Risiko Portofolio
Para investor pada umumnya tidak menginventasikan semua dananya pada suatu saham, tetapi mereka melakukan diversifikasi, mereka hanya akan berminat terhadap pengaruh masing-masing saham pada risiko portofolio. Keadaan ini membawa kita kepada salah satu tema utama dalam bab ini, yaitu :
Risiko dari portofolio yang di-diversifikasikan secara baik tergantung pada risiko pasar dari masing-masing saham yang dimasukkan dalam portofolio tersebut.

Apabila kita ingin membentuk portofolio yang mempunyai risiko yang rendah, maka saham-saham yang dipilih bukanlah saham-saham yang mempunyai deviasi standar yang rendah, tetapi saham-saham yang mempunyai covariance dengan portofolio yang rendah. Kalau portofolio tersebut mewakili semua kesempatan investasi yang ada, dengan proporsi sesuai dengan bobot investasi-investasi tersebut, maka portofolio tersebut disebut sebagai portofolio pasar.

Beta

Rata-rata beta untuk seluruh saham, tentu saja, adalah sama dengan 1,0 deviasi standar dari suatu saham dengan beta sebesar 1,5 adalah sama dengan 1,5 kali portofolio pasar. Sedangkan saham yang mempunyai beta hanya 0,9 berarti deviasi standarnya adalah hanya 0,9 kali deviasi portofolio pasar.
Beta merupakan koefisien antara dua variabel, yaitu kelebihan tingkat keuntungan pasar (excess return of market portofolio), dan kelebihan keuntungan suatu saham (excess return of stock).

1.5       Mengapa Beta Merupakan Pengukur Yang Tepat Dari Indeks Pasar
Pada prinsipnya kita bisa menghitung risiko portofolio pasar dari matrik variance dan covariance. Apabila konstribusi saham 1 tergantung pada nilai pasar relatifnya (X1) dan rata-rata covariance-nya dengan semua saham (SX1s1j)², maka risiko yang disumbangkan oleh saham 1 terhadap portofolio pasar tergantung pada nilai pasar relatifnya (X1) dan pada covariance dengan portofolio pasar (s1M).
Kontribusi risikonya = X1s1M



1
2
3

N


Saham
 
1





Sumbangan saham 1=X1Sxjs1j=x1s1M
2





Sumbangan saham 2=X2Sxjs2j=x2s2M
3





Sumbangan saham 3=X3Sxjs3j=x3s3M







N





Sumbangan saham N=XNSxjsNj=xNsNM








Gambar 1.3
 
Proporsi sumbangan risikonya = X1[ (s1/sM²) ]
Jadi total dari risiko yang disumbangkan oleh semua saham = 1,0. Rasio s1M/sM² adalah beta atau kepekaan pasar dari suatu saham. Saham dengan beta lebih besar dari 1,0 merupakan saham yang sangat peka terhadap perubahan pasar. Saham dengan b>1 disebut sebagai saham yang agresif, sedangkan yang mempunyai beta kurang dari 1 disebut sebagai saham yang defensif.

1.6       Hubungan Risiko dan Keuntungan Dalam Lingkup CAPM
Kalau kita gambarkan risiko dan tingkat keuntungan dalam gambar berikut ini. Sumbu tegak menunjukkan tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu investasi dan sumbu datarnya adalah risiko. Karena Treasury Bills dipandang sebagai investasi yang bebas risiko (Rf), maka risiko (beta) investasi pada portofolio pasar, karena itu betanya adalah 1,0. Garis yang menghubungkan antara kedua titik ini disebut sebagai Security Market Line. Tingkat keuntungan dari investasi-investasi lain akan berada pada garis tersebut sesuai dengan beta investasi-investasi tersebut semakin besar betanya semakin besar pula tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi tersebut.


Tingkat Keuntungan (%)



 





Security Market Line

RM











RF






bM=1



b

Gambar 1.4
 
1 Security Market Line dengan RM=11,3 % dan RF=2,5 %

Tiga orang, yaitu Jack Treynor, William Sharpe dan Jhon Lintner, pada pertengahan tahun 1960 memformulasikan CAPM ini, dan membuktikan bahwa security market line, sebagai berikut :

Premi risiko yang diharapkan = Premi risiko yang diharapkan untuk suatu saham untuk pasar x Beta
Rj – RF                                     = (RM – RF) bj ………………… (1.1)
Formula tersebut sering juga dituliskan menjadi
Rj – RF + (RM – RF) bj ………………… (1.2)

Formula tersebut menyatakan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu saham adalah sama dengan tingkat bebas risiko ditambah dengan premi risiko (yaitu (RM – RF) bj]. Semakin besar risiko saham tersebut semakin tinggi premi risiko yang diharapkan dari saham tersebut. Formula 1.1 tersebut juga menunjukkan bahwa premi risiko yang diharapkan dari satu saham dengan beta 0,5 adalah setengah premi risiko pasar, dan premi risiko yang diharapkan untuk suatu investasi dengan beta 2,0 adalah dua kali premi risiko pasar.

1.7       Pembuktian Formal Bahwa Beta Merupakan Pengukur Rasio
Pada bagian ini kita akan sajikan secara formal bagaimana ukuran risiko yang semula dinyatakan sebagai deviasi standar tingkat keuntungan kemudian berubah menjadi beta saham tersebut.
Gambar 1.5 menunjukkan suatu keadaan yang ekuilibrium dengan garis RFMZ sebagai garis pasar modal (Capital Market Line). Titik M menunjukkan portofolio pasar. Slope garis pasar modal (yaitu RFMZ) adalah :

[ E (RM) – RF ] /sM ………………… (1.3)

Titik i menunjukkan suatu surat berharga yang berisiko (dan tidak efisien).






 

 



 

E(RM)



M


i.     .




RF






sM



s



















Gambar 1.5
Portofolio-portofolio yang efisien dan tidak efisien
 



Misalkan kita membagi dana untuk diinvestasikan pada saham i dan pada portofolio pasar (M). kita gunakan notasi Xi sebagai proporsi yang diinvestasikan pada saham I, dan XM sebagai proporsi dana yang diinvestasikan pada portofolio pasar. Dengan demikian maka :
Xi + XM        = 1 demikian maka :
XI + XM         = 1 disebut portofolio baru yang terbentuk ini adalah portofolio Y. Dengan demikian maka :

E(RY) = X1E(Ri) + XME(RM)
s2Y    = X12s2i + X2MsM2 + 2XiXM COViM

Keterangan :
E(RY)   =  tingkat keuntungan yang diharapkan untuk portofolio Y.
E(Ri)    =  tingkat keuntungan yang diharapkan untuk saham i.
E(RM)   =  tingkat keuntungan yang diharapkan dari portofolio pasar.
s2Y      =  variance tingkat keuntungan portofolio Y.
si        =  deviasi standar dari tingkat keuntungan saham i.
sM       =  deviasi standar tingkat keuntungan portofolio pasar.
COViM  =  covariance antara tingkat keuntungan saham i dengan portofolio pasar.

          Pada proporsi dana yang diinvestasikan pada i dan M, portofolio Y akan berada pada garis yang menghubungkan titik i dan M (kurva iM). Bentuk kurva ini tergantung pada koefisien korelasi tingkat keuntungan i dan M. Kemiringan kurva (slope) pada titik M adalah :

SM      = [ {E(Ri) – E(RM)}sM ] / (COViMs2M) ….. (1.4)

Keterangan :
SM      = Kemiringan kurva iM pada titik M.
Mengapa titik M penting ? karena pada titik M kurva iM harus merupakan “tangen” dari garis pasar modal, maka slope antara garis pasar modal sama dengan slope kurva iM pada titik M. atau secara formal bisa dinyatakan, pada titik M, SM=b.
Jadi persamaan 1.3 dan 1.4, hasilnya menjadi :

[ E(Ri) – E(RM) ] sM                               E(RM) – E(Ri)
     COViM - s2M                                                  sM

Kalau kita sederhanakan, maka akan menjadi :

E(Ri) – RF = [ {E(RM) – RF} / sM ] COViM ….. 1.5
Atau
E(Ri) – RF = [ E(RM) – RF ] (COViM/sM2) .….. 1.6
COViM/sM2 disebut sebagai b
Persamaan 1.6 dapat dituliskan dengan :
E(Ri) – RF = [ E(RM) – RF ] bi  …………….….. 1.7
Persamaan ini disebut sebagai Standart CAPM.



2. PERKEMBANGAN PASAR MODAL DI INDONESIA


          Tujuan  yang ingin dicapai pada saat pasar modal Indonesia diaktifkan :
1.   Untuk memobilisir dana diluar sistem perbankan.
2.   Untuk memperluas distribusi kepemilikan saham, terutama  ke pemodal-pemodal kecil.
3.   Untuk memperluas dan memperdalam sektor keuangan.
Kegiatan pasar modal Indonesia resmi dimulai pada tahun 1997 sampai dengan tahun 1982 baru 23 perusahaan dan pada tahun 1988 baru 24 perusahaan. Baru pada tahun 1990 terjadi peningkatan yang cukup pesat mencapai 124 perusahaan.
Pada tahun 1989 jumlah perusahaan yang terdaftar di BEJ meningkat cukup banyak. Pada tahun 1989 pemerintah membuka bursa paralel untuk perusahaan-perusahaan yang masih belum memenuhi syarat untuk terdaftar di BEJ. Sebab-sebab terjadinya peningkatan pada tahun 1989 s/d 1990 :
1.     BAPEPAM mulai menerapkan kebijakan baru yang intinya BAPEPAM tidak ingin mencampuri pembentukan harga saham di pasar perdana.
2.     Batasan perubahan harga saham sebesar maksimum empat persen setiap transaksi ditiadakan.
Description: CAPITAL ASSET PRICING MODEL Rating: 4.5 Reviewer: Firdaus Ahmad - ItemReviewed: CAPITAL ASSET PRICING MODEL

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar