Selasa, 16 April 2013

METODE ANALISIS LIFE CYCLE COST

BAB I
PENDAHULUAN

Dengan pesatnya perkembangan pemanfaatan komputer berkembangnya dalam tahap desain, engineering, dan produksi maka jarak waktu yang diperlukan dari ide rancangan sampai dengan produksi menjadi sangat pendek. Kondisi ini memungkinkan perusahaan-perusahaan kelas dunia memilih startegi inovasi sebagai senjata untuk memenangkan perebutan pasar dunia. Staregi ini menjadikan daur hidup produk menjadi pendek.
Oleh karena itu, manajemen yang bersaing dikelas dunia tidak cukup hanya memperoleh informasi biaya periodik yang dihasilkan oleh sistem akuntansi tradisional, namun jauh lebih penting dari itu, manajemen memerlukan informasi product life cycle costs yang memungkinkan manajemen melakukan strategic cost analysis pada saat mempertimbangkan peluncuran produk baru, penghentian produksi produk yang ada, dan product profitability analysis .
 Semakin pendeknya daur hidup produk semakin memerlukan perancangan yang matang keseluruhan pendapatan dan biaya yang diproyeksikan selama daur hidup produk, agar investasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk desain dan pengembangan produk dan untuk mesin dan ekuipmen yang bersangkutan dengan produk  dapat tertutup dari kas masuk bersih selama daur hidup yang diperkirakan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Life Cycle Cost Analysis

            Life cycle costing merupakan teknik manajemen yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memonitor biaya produk selama siklus hidupnya. Siklus hidup meliputi semua tahap, mulai dari perancangan produk dan pembelian bahan baku hingga pengiriman dan pelayanan atas produk yang sudah jadi.[1]
Siklus akuntansi biaya dalam suatu perusahaan mengikuti siklus kegiatan usaha perusahaan yang bersangkutan. Siklus akuntansi biaya untuk perusahaan manufaktur, dimulai dengan pengolahan bahan baku dibagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam perusahaan tersebut, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi, dilanjutkan dengan pencatatan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang dikonsumsi untuk produksi, serta berakhir dengan disajikannya harga pokok produk jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang.[2]
Life Cycle Costing
Life cycle costing memberikan perspektif jangka panjang karena mempertimbangkan semua biaya selama umur produk atau jasa.
Total biaya selama siklus hidup dibagi menjadi 3, yaitu:
1.      Biaya hulu, terdiri dari riset dan pengembangan, desain yang membuat prototype, pengujian, teknis, dan pengembangan kualitas.
2.      Biaya produksi, terdiri dari pembelian, biaya produksi langsung, biaya produksi tidak langsung.
3.    Biaya hilir, terdiri dari pemasaran dan distribusi pengemasan, pengangkutan, contoh, promosi, advertensi, dan pelayanan serta garansi keluhan, pelayanan, pertanggungjawaban produk, dukungan kepada pelanggan.
                                                                                     

1. Biaya Hulu
      a.   Desain
        Karena manajer mempertimbangkan biaya hulu dan hilir, pengambilan     keputusan pada tahap desain merupakan sesuatu yang penting. Meskipun biaya yang terjadi pada tahap desain mungkin hanya merupakan presentase yang kecil dari total selama biaya siklus hidup, keputusan pada tahap desain membuat perudahaan berkomitmen pada rencana produksi, pemasaran dan layanan yang ada.
        Oleh karena itu, biaya desain mempengaruhi sebagian besar lainnya yang dikeluarkan selama siklus produk tersebut.
Faktor – faktor penentu keberhasilan pada tahap desain adalah sbb :
v  Mempercepat waktu peluncuran ke pasar
v  Menurunkan biaya layanan/perbaikan yang diharapkan
v  Mempermudah produksi
v  Merencanakan dan mendesain proses
            Ada empat metode desain yang umum sebagai berikut :
ü  Rekayasa Teknik Dasar
     Merupakan teknik dimana desainer produk bekerja secara terpisah dari fungsi pemasaran dan produksi untuk mengembangkandesain dengan rencana dan spesifikasi khusus.
ü  Pembuatan Prototipe
     Merupakan mode dimana model – model fungsional dikembangkan dan di uji coba oleh para teknisi dan pemakaian yang dipilih untuk percobaan.
ü  Templating
     Merupakan mtode desain produk yang ada pada saat ini ditambahkan atau dikurangi agar sesuai dengan spesifikasi produk baru yang diharapkan.
ü  Rekayasa Simultan
     Merupakan perkembangan penting baru yang merupakan pengganti pendekatan rekayasa dasar, sebaliknya rekayasa simultan merupakan pendekatan yang terintegrasi, dimana proses desain/teknis dilakukan selama siklus hidu biaya oleh tim –tim lintas fungsi.[3]


b. Pengujian
        Proses dan materi pengujian yang dipilih biasanya dilakukan dengan menerapkan dengan teknik-tenik ekperimental secara formal dan sekaligus dijadikan landasan untuk tahap perencanaan berikutnya yang lebih mendetail, yang nantinya akan diuji. Pada tahap pelaksanaan masih akan dilakukan pengujian lebih lanjut, sampai dihasilkan produk yang benar-benar optimal hingga dapat dianggap selesai.[4]
c. Pengembangan Kualitas
        Dalam zaman quality assurance, konsep kualitas mengalami perluasan, dari konsep yang sempit, hanya terbatas pada tahap produksi, ke tahap desain dan koordinasi dengan departemen jasa (seperti perencanaan dan pengendalian produksi, pergudangan).
        Dalam zaman ini pula diperkenalkan konsep total quality control (TQC) oleh armand Feigenbaum pada tahun 1956. Menurut Feigenbaum, kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan manufaktur, namun lebih luas dari itu, keterlibatan pemasok, desain dan pengembangan produk, dan kerja tim antar fungsi.[5]
         
2. Biaya Produksi
 
          Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu :

a.      Biaya Bahan Baku
        Bahan baku adalah berbagai macam bahan yang diolah menjadi produk selesai dan pemakaiannya dapat diidentifikasikan secara langsung, atau diikuti jejaknya , atau merupakan bagian dari produk tertentu. Biaya bahan baku adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai di dalam kegiatan pengolahan produk
b.      Biaya Tenaga kerja Langsung
        Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang jasanya dapat diidentifikasikan atau diikuti jejak manfaatnya pada produk tertentu. Biaya tenaga kerja langsung adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada tenaga kerja langsung dan jejaknya manfaatnya dapat diidentifikasikan pada produk tertentu.

c.       Biaya Overhead Pabrik
        Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, contohnya seprti biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik.[6]
Ø  Biaya Produksi Langsung
 Biaya langsung, berkaitan dengan obyek biaya tertentu dan dapat ditelusuri ke obyek biaya tersebut dengan cara yang layak secara ekonomi (efektif-biaya).
contoh; biaya kaleng atau botol untuk produk teh botol.
Ø  Biaya Produksi Tak Langsung
berkaitan dengan obyek biaya tertentu namun tidak dapat ditelusuri ke obyek biaya tersebut dengan cara yang layak secara ekonomi (efektif-biaya).
Contoh; biaya gaji supervisor

3. Biaya Hilir

Ø  Biaya pemasaran
          Biaya Pemasaran adalah meliputi semua dalam melaksanakan kegiatan pemasaran atau kegiatan untuk menjual barang dan jasa perusahaan kepada para pembeli sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas. Sesuai dengan fungsi pemasaran, biaya pemasaran digolongkan menjadi :
1). Biaya untuk menimbulkan pesanan, contohnya seperti biaya promosi dll.
2). Biaya untuk melayani pesanan, diantaranya :
·         Biaya fungsi penggudangan  dan penyimpanan produk selesai
·         Biaya fungsi pengepakan dan pengiriman
·         Biaya fungsi pemberian kredit dan penagihan piutang
·         Biaya fungsi administrasi penjualan.[7]
Ø  Biaya Promosi
Biaya promosi merupakan sejumlah dana yang dikucurkan perusahaan ke dalam promosi untuk meningkatkan penjualan.[8] Biaya Promosi dapat dikategorikan sebagai biaya langsung apabila terkait langsung dengan suatu produk atau proyek. Tetapi apabila Biaya Promosi ini bersifat umum untuk seluruh kegiatan perusahaan, ia dapat dikategorikan sebagai biaya operasi.[9]

Ø  Biaya Layanan Konsumen
         Biaya Layanan konsumen adalah sekumpulan biaya yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, dan menggunakan produk atau jasa tersebut.[10]


B. Manfaat Analisis Life Cycle Cost

v  Untuk meningkatkan kesadaran biaya. Penerapan LCC akan meningkatkan kesadaran akan manajemen dan insinyur pada faktor-faktor yang mendorong biaya dan sumber daya yang diperlukan oleh item, sehingga bisa dilakukan program pengurangan biaya.
v  Seluruh biaya hidup evaluasi. LCC memungkinkan evaluasi pilihan bersaing berdasarkan seluruh biaya hidup.
v  Memaksimalkan pendapatan. Dengan menerapkan LCC, operasi dan biaya pemeliharaan berkurang tanpa scarifying kinerja alat produksi melalui analisis parameter kinerja dan biaya driver.
v  Memahami prosedur untuk menerapkan LCC termasuk pengembangan Biaya Siklus Hidup model untuk berbagai aplikasi.
v  Memahami latar belakang teoritis nilai waktu uang dan analisis risiko serta dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan.[11]


Analisis Laba Siklus Hidup Produk Baru

Laporan: Analisis Produk Baru Proyek No.001
Estimasi siklus hidup produk: 2 tahun
Proyeksi potensi penjualan: 1000 unit (siklus hidup), harga Rp 2/unit
Target operating profit margin 20%
Proyeksi laporan laba-rugi siklus hidup
Penjualan (1000 unit @ Rp 2)
2.000
Biaya Input:

Bahan
500
Upah
400
Biaya overhead pabrik
300
Biaya mutu
100
Biaya pemasaran
250
Biaya administrasi
150
Laba siklus hidup (laba operasi)
300

Berdasarkan proyeksi laba rugi di atas menunjukkan bahwa laba operasi terhadap penjualan (operating profit margin) sebesar: (Rp 300 / Rp 2.000) = 15%. Dengan demikian produk baru tersebut ditolak, karena target laba operasi terhadap penjualan sebesar 20%.

B. Kesimpulan

      Life cycle costing merupakan teknik manajemen yang digunakan untuk mengidentifikasi dan memonitor biaya produk selama siklus hidupnya.
Total biaya selama siklus hidup dibagi menjadi 3, yaitu:
1.      Biaya hulu, terdiri dari riset dan pengembangan, desain yang membuat prototype, pengujian, teknis, dan pengembangan kualitas.
2.      Biaya produksi, terdiri dari pembelian, biaya produksi langsung, biaya produksi tidak langsung.
3.      Biaya hilir, terdiri dari pemasaran dan distribusi pengemasan, pengangkutan, contoh, promosi,
Manfaat Analisis Life Cycle Cost
v  Untuk meningkatkan kesadaran biaya.
v  Seluruh biaya hidup evaluasi. LCC memungkinkan evaluasi pilihan bersaing berdasarkan seluruh biaya hidup.
v  Memaksimalkan pendapatan. Memahami prosedur untuk menerapkan LCC termasuk pengembangan Biaya Siklus Hidup model untuk berbagai aplikasi.
v  Memahami latar belakang teoritis nilai waktu uang dan analisis risiko serta dampaknya terhadap proses pengambilan keputusan


Daftar Pustaka
Blocher dkk, Manajemen Biaya, Jakarta:Salemba Empat
T. Horngren ,Charles dkk, Akuntansi Biaya-Suatu Pendekatan Manajerial, Cetakan 4, Jakarta:Erlangga,      
Supriyono,R.A, Akuntansi Manajemen 1, Yogyakarta:BPFE-Yogyakarta
Dipohusodo,Istimawan, Manajemen Proyek dan Kontruksi, Yogyakarta:Kanisius
Mulyadi, Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen, Jakarta:Salemba Empat
Simamora,Henry, Akuntansi Manajemen, Jakarta:Salemba Empat
Rangkuty,Freddy, Flexible Marketing,  Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Kotler, Phillip, Manajemen Pemasaran, Alihbahasa Benyamin Molan, , Jakarta, Erlangga



     [1] Blocher dkk, Manajemen Biaya, Jakarta, Salemba Empat, Hal : .25
    [2] Charles T. Horngren dan George Foster, Akuntansi Biaya-Suatu Pendekatan
        Manajerial, Cetakan 4, Jakarta, Erlangga, 1994, Hal : 31
    [3] R.A. Supriyono, Akuntansi Manajemen 1, Yogyakarta, BPFE-Yogyakarta, 1999, Hal : 194
    [4] Istimawan dipohusodo, Manajemen Proyek dan Kontruksi, Yogyakarta, Kanisius, 1996, Hal : 218
    [5] Mulyadi, Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen, Jakarta, Salemba Empat, 2007, Hal : 44
    [6] R.A. Supriyono, Akuntansi Manajemen 1, Yogyakarta, BPFE-Yogyakarta, 1999, Hal : 194
    [7] Ibid, Hal : 195
    [8] Henry Simamora, Akuntansi Manajemen, Jakarta, Salemba Empat, 2002, Hal : 762
    [9]  Freddy Rangkuty, Flexible Marketing, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004, Hal : 123
    [10] Kotler, Phillip, Manajemen Pemasaran, Alihbahasa Benyamin Molan, Jakarta, Erlangga, 2000, Hal : 41

Description: METODE ANALISIS LIFE CYCLE COST Rating: 4.5 Reviewer: Firdaus Ahmad - ItemReviewed: METODE ANALISIS LIFE CYCLE COST

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar