Kamis, 29 Mei 2014

BIOGRAFI DAN TEORI PEMIKIRAN DARI AUGUSTE COMTE

A.    Biografi August Comte

August Comte atau juga Auguste Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya dari negara Perancis, tanggal 17 Januari 1798. Ia adalah seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki sebagai “bapak sosiologi”. Dia dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Ia melanjutkan pendidikannya di PoliteknikÉcole di Paris.
Pada tahun 1818, politeknik tersebut ditutup untuk re-organisasi. Comte pun meninggalkan École dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.
Dia wafat di Paris pada tanggal 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetière du Père Lachaise. Auguste Comte disebut sebagai bapak sosiologi karena beliaulah yang pertama kali memakai istilah sosiologi, serta mengkajinya secara sistematis, sehingga ilmu tersebut melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sejak pertengahan abad 19.

B.     Konsep, pemikiran, dan teori Comte

Teori Evolusi idealis (Hukum Tiga Tahap)
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampi ke peradaban Perancis abad 19 yang sangat maju. Hukum ini, mungkin merupakan gagasan yang terkenal dari seluruh pemikiran Comte, walupun merupakan hukum yang paling contradiction in ternminis dalam pemiran Comte sendiri, karena Comte selalu menekankan pengujian empiris secara teliti dalam membentuk hukum sosiologi, sementara hukum tiga tahapannya terlalu luas dan tidak dapat diuji sepenuhnya oleh pengujian empirik.
Hukum itu menyatakan bahwa masyarakat-masyarakat berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berfikir yang dominan: teologis, metafisik dan positif. Gagasan tentang evolusi perkembangan melaui tiga tahap ini bukan hanya milik Comte saja. Awal-awal rumusan Comte mengenai hukum tiga tahap dikembangkan selama dia bekerjasama dengan Saint Simon, dan model dasar itu pasti merupakan hasil kerjasama ini. Jacques Turgot Juga sudah mengemukakan suatu pandangan yang serupa mengenai perkembangan sejarah dari bentuk-bentuk pemikiran primitif sampai bentuk-bentuk pemikiran ilmiah modern di abad 18. Secara luas Comte mensistematisasi dan mengembangkan model itu serta mengaitkannya dengan memberi tekanan pada paham positif.

Secara singkat karakteristik tiga tahap tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Tahap Teologis
Tahap Teologis merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia dan untuk analisis yang lebih terinci, Comte membaginya ke dalam periode fetisisme, politeisme, dan monoteisme. Fetisisme, bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Ahkirnya fetisisme ini diganti dengan kepercayaan akan sejumlah hal-hal supernatural yang meskipun berbeda-beda dari benda-benda alam, namun terus mengontrol semua gejala alam yang disebut sebagai politeisme. Begitu pikiran manusia terus maju, kepercayaan akan banyak dewa itu diganti dengan kepercayaan akan satu tuhan. Katolikisme di tengah abad, menurut Comte, memperlihatkan puncak tahap monoteisme.

2.      Tahap Metafisik
Tahap Metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini ditandai oleh suatu kepercayaan atau hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dengan akal budi. Protestanisme dan Deisme memperlihatkan penyesuaian yang berturut-turut dari semangat teologis ke munculnya semangat metafisik yang mantap. Satu manifestasi yang serupa dari semangat ini dinyatakan dalam Declaration of independence. “kita menganggap kebenaran ini jelas berasal dari dirinya sendiri”. Gagasan bahwa ada kebenaran tertentu yang yang asasi mengenai hukum alam yang jelas dengan sendirinya menurut pikiran manusia, sangat mendasar dalam pemikiran metafisik.

3.      Tahap positif
Tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empirik sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak: semangat positifisme memperlihatkan keterbukaan terus-menerus rehadap data baru atas dasar mana pengetahuan dapat ditinjau kembali dan diperluas. Akal budi penting, seperti dalam periode metafisik, tetapi harus dipimpin oleh data empirik. Analisis rasional mengenai data empiric akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum, tetapi hukum-hukum lebih dilihat sebagai uniformitas empiric daripada kemutlakan metafisik.   

Salah satu kata mutiara dari Auguste Comte :
"The sacred formula of positivism: love as a principle, the order as a foundation, and progress as a goal."

– Auguste Comte
Description: BIOGRAFI DAN TEORI PEMIKIRAN DARI AUGUSTE COMTE Rating: 4.5 Reviewer: Firdaus Ahmad - ItemReviewed: BIOGRAFI DAN TEORI PEMIKIRAN DARI AUGUSTE COMTE

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar