Sabtu, 30 Juni 2012

PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ABU YUSUF


PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ABU YUSUF

BAB I
PENDAHULUAN

            Ekonomi  Islam  yang  telah  hadir  kembali  saat  ini,  bukanlah  suatu  hal  yang  tiba-tiba datang  begitu  saja,  melainkan  terdapat  tokoh-tokoh  ekonomi  Islam,  yang  mana  konsep ekonomi mereka berakar pada hukum Islam  yang bersumber dari  Al Qur’an dan  Hadis Nabi saw. Sebagaimana tokoh  yang  akan dibahas dalam makaah  ini  yaitu Abu Yusuf, beliau telah memberikan kontribusi pemikiran ekonomi. Beliau merupakan seorang tokoh muslim pertama yang  menyinggung  masalah  mekanisme  pasar.  makalah  ini  akan  berusaha  mengangkat tentang bagaimanakah pemikiran ekonomi beliau.

            Adapun  pembahasan  dalam  makalah  ini  akan  diawali  dengan  Sekilas  tentang  Abu Yusuf,  Kitab  al-Kharaj,   Latar  Belakang  Pemikiran  Ekonomi  Abu  Yusuf,  Mekanisme Pemikiran  Ekonomi  Abu  Yusuf,  Sistem  Ekonomi  Abu  Yusuf,  Tujuan  Kebijakan  ekonomi Abu Yusuf. 


BAB II
PEMBAHASAN
     
A.    Sekilas tentang Abu Yusuf
     Ya`qub  bin  Ibrahim  bin  Habib  bin  khunais  bin  Sa`ad  Al-Anshari,  atau  yang  sering dikenal Abu Yusuf, lahir di Kufah pada tahun 113 H (731 M) dan meninggal dunia tahun 182 H  (789  M)[1].  ibunya  masih  keturunan  dari  salah  seorang  sahabat  Rasulullah  Saw.,  Sa`ad  Al-Anshari.  Beliau  dilahirkan  di  kota  Kufa.  Pada  masa  kecilnya,  Imam  Abu  Yusuf   memiliki ketertarikan  yang  kuat  pada  ilmu  pengetahuan,  terutama  pada  ilmu  hadis. 

     Abu  Yusuf menimba berbagai ilmu kepada banyak ulama besar, seperti Abu Muhammad atho bin as-Saib Al-kufi,  Pendidikannya  dimulai  dari  belajar  hadits  dari  bebearapa  tokoh.  Ia  juga  ahli  dalam bidang  fiqh, beliau belajar dari seorang  guru  yang bernama Muhammad Ibnu abdur Rohman bin  Abi  laila  yang  lebih  di  kenal  dengan  nama  Ibn  Abi  Laila.selama  tujuh  belas  tahun  Abu Yusuf tiada henti-hentinya belajar kepada Abu hanifa, iapun terkenal sebagai salah satu murid terkemuka Abu Hanifah.

     Adapun buku-buku yang pernah ditulis Abu Yusuf seperti:
1.      Kitab  al-Asar.   Didalam  kitab  ini  dimuat  hadis  yang  diriwayatkan  dari  ayah  dan gurunya.  Ia  mengemukakan  pendapat  gurunya,  Imam  Abu  hanifah,  kemudian pendapatnya sendiri dan menjelaskan sebab terjadinya perbedaan pendapat mereka.
2.       Kitab  Ikhtilaf  Abi  Hanifah  wa  ibn  Abi  Laila.   Didalamnya  dikemukakan  pendapat Imam Abu Hanifah dan ibn Abi Laila serta perbedaan pendapat mereka.
3.      Kitab ar-Radd ’ala Siyar al-Auza’i.  Kitab ini memuat perbedaan pendapatnya dengan Abdurahman al-Auzai tentang perang dan jihad.
4.      Kitab al-Kharaj.  Kitab ini merupakan kitab terpopuler dari karya-karyanya.  Didalam kitab ini , ia menuangkan pemikiran fiqihnya dalam berbagai aspek, seperti keuangan negara, pajak tanah, pemerintahan dan musyawarah[2].

B.     Kitab al-Kharaj
     Kitab al-Kharaj mencakup berbagai bidang, antara lain[3]:
1.      Tentang  pemerintahan, seorang khalifah  adalah  wakil  Allah di bumi  untuk melaksanakan  perintah-Nya.Dalam  hubungan  hak dan tanggung  jawab pemerintah  terhadap  rakyat.Kaidah  yang  terkenal  adalah Tasharaf  al-imam manuthum bi al-Maslahah.
2.       Tentang  keuangan; uang  negara bukan milik  khalifah tetapi amanat Allah dan rakyatnya yang harus dijaga dan penuh tanggung jawab.
3.      Tentang  pertanahan; tanah yang diperoleh  dari  pemberian dapat ditarik kembali jika tidak digarap selama tiga tahun dan diberikan kepada yang lain.
4.      Tentang  perpajakan  ; pajak  hanya  ditetapkan  pada  harta  yang  melebihi kebutuhan rakyat yang ditetapkan berdasarkan pada kerelaan mereka.
5.      Tentang peradilan; hukum tidak dibenarkan berdasarkan hal yang yang subhat. Kesalahan  dalam  mengampuni  lebih  baik  dari  pada  kesalahan  dalam menghukum.  Jabatan  tidak  boleh  menjadi  bahan  pertimbangan  dalam persoalan keadilan.



C.      Latar Belakang Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf
     Latar  belakang  pemikirannya  tentang  ekonomi,  setidaknya  dipengaruhi  beberapa faktor,  baik  intern  maupun  ekstern[4]
1.      Faktor  intern  muncul  dari  latar  belakang  pendidikannya yang dipengaruhi dari beberapa gurunya. Hal ini nampak dari, setting social dalam penetapan kebijakan  yang  dikeluarkannya,  tidak  keluar  dari  konteksnya.  Ia  berupaya  melepaskan belenggu  pemikiran  yang  telah  digariskan  para  pendahulu,  dengan  cara  mengedepankan rasionalitas  dengan  tidak  bertaqlid. 
2.      Faktor  ekstern,  adanya  system  pemerintahan  yang absolute  dan  terjadinya  pemberontakan  masyarakat  terhadap  kebijakan  khalifah  yang  sering menindas rakyat. Ia tumbuh dalam keadaan politik dan ekonomi kenegaraan yang tidak stabil, karena  antara  penguasa  dan  tokoh  agama  sulit  untuk  dipertemukan. 

     Abu Yusuf cenderung menyetujui negara mengambil bagian dari hasil pertanian dari para  penggarap  daripada  menarik  sewa  dari  lahan  pertanian.  Dalam  pandangannya,  cara  ini lebih  adil  dan  tampaknya  akan  memberikan  hasil  produksi  yang  lebih  besar  dengan memberikan  kemudahan  dalam  memperluas  tanah  garapan.

      Dalam  hal  pajak,  ia  telah meletakan  prinsip-prinsip  yang  jelas  yang  berabad-abad  kemudian  dikenal  oleh  para  ahli ekonomi sebagai canons of taxation. Kesanggupan membayar, pemberian waktu yang longgar bagi  pembayar  pajak  dan  sentralisasi  pembuatan  keputusan  dalam  administrasi  pajak  adalah beberapa  prinsip  yang  ditekankannya.  Misalnya  abu  Yusuf  juga  mengangkat  kisah  khalifah Umar  ibn Khattab  yang menghadapi  kaum nasrani  bani Tlaghlab[5]. Mereka  ádalah orang arab yang anti pajak. Maka jangan sekali-kali kamu engkau jadikan mereka sebagai musuh (karena tidak  mau  membayar  pajak),  maka  ambillah  dari  mereka  pajak  dengan  atas  nama  sedekah. Karena mereka Sejak dulu mau membayar sedekah dengan berlipat ganda asa tidak bernama pajak.

     Mendengar  hal  itu pada  mulanya  khalifah  Umar  menolak  usulan  ini,  tetapi  kemudian hari justru menyetujuinya, sebab di dalamnya terdapat unsur mengais manfaat dan mencegah mudharat. Sebagai contoh dalam sentralisasi pembuatan keputusan dalam administrasi pajak. Dalam  bukunya  kitab  al-Kharaj,  Abu  Yusuf  menguraikan  kondisi-kondisi  untuk perpajakan, yaitu:
1.      Charging a justifiable minimum (harga minimum yang dapat dibenarkan)
2.      No oppression of tax-payers (tidak menindas para pembayar pajak)
3.      Maintenance of a healthy treasury, (pemeliharaan harta benda yang sehat).
4.      Benefiting  both  government  and  tax-payers  (manfaat  yang  diperoleh  bagi pemerintah dan para pembayar pajak) 
5.      In  choosing  between  alternative  policies  having  the  same  effects  on  treasury, preferring  the  one  that  benefits  tax-payers  (pada  pilihan  antara  beberapa alternatif peraturan  yang memeliki dampak  yang sama pada harta benda, yang melebihi salah satu manfaat bagi para pembayar pajak. 

     Abu Yusuf menyatakan:
     Dalam  pandangan  saya,  system  perpajakan  terbaik  untuk  menghasilkan  pemasukan  lebih banyak bagi keuangan negara dan yang paling tepat untuk menghindari kezaliman terhadap pembayar  pajak  oleh  para  pengumpul  pajak  adalah  pajak  pertanian  yang  proporsional. System  ini  akan  menghalau  kezaliman  terhadap  para  pembayar  pajak  dan  menguntungkan keuangan negara.

     Sistem  pajak  ini  didasarkan  pada  hasil  pertanian  yang  sudah  diketahui  dan  dinilai,  system tersebut  mensyaratkan  penetapan  pajak  berdasarkan  produksi  keseluruhan,  sehingga  system ini  akan  mendorong  para  petani  untuk  memanfaatkan  tanah  tandus  dan  amati  agar memperoleh  bagian  tambahan.  Dalam  menetapkan  angka.  Abu  Yusuf  menganggap  system irigasi sebagai landasannya, perbedaan angka yang diajukannya adalah sebagai berikut:
1.      40 % dari produksi yang diairi oleh hujan alamiah
2.      30 %  dari  produksi  yang  diairi  secara artificial  1/3  dari  produksi  tanaman (pohon  palm,  kebun  buah-buahan  dan  sebagainya)  ¼  dari  produksi  tanaman musim panas.

     Dari  tingkatan  angka  di  atas  dapat  dilihat  bahwa  Abu  Yusuf  menggunakan  sistem irigasi  sebagai  kriteria  untuk  menentukan kemampuan  tanah  membayar  pajak,  beliau menganjurkan  menetapkan  angka  berdasarkan  kerja  dan  modal  yang  digunakan  dalam menanam tanaman.

     Dapat dilihat bahwa pemikiran Abu Yusuf menggambarkan adanya batasan-batasan tertentu  bagi  pemerintah  dalam  menentukan  kebijakan  harga.  Abu  Yusuf  lebih  banyak mengedepankan  ra’yu  dengan  menggunakan  perangkat  analisis  qiyas  dalam  upaya  mencapai kemaslahatan ‘ammah sebagai tujuan akhir hukum. Penting diketahui, para penguasa pada periode itu umumnya memecahkan masalah kenaikan  harga  dengan  menambah  suplai  bahan  makana  dan  mereka  menghindari  kntrol harga.  Kecendrungan  yang  ada  daam  pemikiran  ekonomi  adalah  membersihkan  pasar  dari praktek  penimbunan,  monopoli,  dan  pratek  korup  lainnya  dan  kemudian  membiarkan penentuan  harga  kepada kekuatan permintaan dan penawaran. Abu Yusuf tidak dikecualikan dalam hal kecenderungan ini

D.  Mekanisme Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf
     Adapun  yang  menjadi  kekuatan  utama  pemikiran  abu  yusuf  adalah  dalam  masalah keuangan  publik.  Dengan  daya  observasi  dan  analisisnya,  abu  yusuf  menguraikan  masalah keuangan  dan  menunjukkan  beberapa  kebijakan  yang  harus  diadobsi  bagi  pertumbuhan ekonomi  dan  kesejahteraan  rakyat.  beliau  melihat  bahwa  sektor  Negara  sebagai  satumekanisme  yang  memungkinkan  warga  Negara  melakukan  campur  tangan  atas  proses ekonomi. Bagaimana mekanisme pengaturan tersebut dalam menentukan : Tingkat pajak yang sesuai  dan  seimbang  dalam  upaya  menghindari  perekonomian  Negara  dari  ancaman  resesi.

     Sebuah arahan  yang jelas tentang pengeluaran pemerintah untuk tujuan  yang diinginkan oleh kebijaksanaan  umum.  Untuk  dapat  mewujudkan  keadaan  tersebut  Abu  Yusuf  meletakkan beberapa macam mekanisme, yakni:  Menggantikan system wazifah dengan system muqosomahWazifah  dan  muqosomah  merupakan  istilah  dalam  membahasakan  system  pemungutan pajak. Wazifah memberikan arti bahwa system pemungutan yang ditentukan berdasarkan nilai tetap,  tanpa  membedakan  ukuran  tingkat  kemampuan  wajib  pajak  atau  mungkin  dapat dibahasakan  dengan  pajak  yang  dipungut  dengan  ketentuan  jumlah  yang  sama  secara keseluruhan,  sedangkan  Muqosomah  merupakan  system  pemungutan  pajak  yang diberlakukan berdasarkan nilai yang tidak tetap (berubah) dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan  dan  persentase  penghasilan  atau  pajak  proporsional,  sehingga  pajak  diambil dengan cara yang tidak membebani kepada masyarakat.

 E. Sistem Ekonomi Abu Yusuf
     Sistem  ekonomi  yang  dikehendaki  oleh  Abu  yusuf  adalah  satu  upaya  untuk mencapai  kemaslahatan  ummat.  Kemaslahatan  ini  didasarkan  pada  al-Qur’an,  al-  Hadits, maupun  landasan-landasan  lainnya.  Hal  inilah  yang  nampak  dalam  pembahasannya  kitab  al-Kharaj.  Kemaslahatan  yang  dimaksud  oleh  Abu  Yusuf  adalah,  yang  dalam  termiologi  fiqh disebut  dengan  Maslahah/  kesejahteraan,  baik  sifatnya  individu  (mikro)  maupun  (makro) kelompok. 

     Dalam  hal  yang  berhubungan  pemerintahan  Abu  Yusuf  menyusun  sebuah  kaidah fiqh  yang  sangat  populer,  yaitu  Tasrruf  al-Imam  `ala  Ra`iyyah  Manutun  bi  al-Mashlaha (setiap  tindakan  pemerintah  yang  bertkaitan  dengan  rakyat  senantiasa  terkait  dengan kemaslahatan mereka).ia menekankan pentingnya sifat amanah dalam mengelola uang negara, uang  negara  bukan  milik  khalifah,  tetapi  amanat  Allah  dan  rakyatnya  yang  harus  dijaga dengan penuh tanggungjawab.


BAB III
KESIMPULAN

            Ya`qub bin Ibrahim bin Habib bin khunais  bin  Sa`ad  Al-Anshari, atau yang sering dikenal Abu Yusuf, lahir di Kufah pada tahun 113 H (731 M) dan meninggal dunia tahun 182 H (789 M). Pemikiran  Abu  Yusuf  dalam  konsep-konsep  ekonomi  terfokus  pada  bidang perpajakan  dan  pengolahan  lahan  pertanian,  yang  banyak  dituangkannya  dalam  Kitab  al-Kharaj.

            Latar  belakang  pemikirannya  tentang  ekonomi,  setidaknya  dipengaruhi  beberapa faktor,  baik  intern  maupun  ekstern.  Faktor  intern  muncul  dari  latar  belakang  pendidikannya yang  dipengaruhi  dari  beberapa  gurunya.  Faktor  ekstern,  adanya  system  pemerintahan yang absolute  dan  terjadinya  pemberontakan  masyarakat  terhadap  kebijakan  khalifah  yang  sering
menindas rakyat.  

            Adapun  yang  menjadi  kekuatan  utama  pemikiran  abu  yusuf  adalah  dalam  masalah keuangan publik.  Abu  Yusuf  dalam  membenahi  system  perekonomian,  ia  membenahi  mekanisme ekonomi dengan jalan membuka jurang pemisah antara kaya dan miskin.


Daftar Pustaka

            Karim, Adiwarman Azhar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Ed. Ke-2. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
            Sudarsono, Heri, Konsep Ekonomi Islam, Yogyakarta: Ekonisia, 2003.  
            Azra, Azumardi, "Kata Pengantar" dalam Didin Saefudin, Zaman Keemasan Islam, Jakarta: Grasindo, 2002    
.           Madjid,  M.  Nazori,  Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf,   Yogyakarta:  Pusat  Studi Ekonomi Islam, 2003   
            http://abufitriambardi.blogspot.com/2010/09/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam-abu.html.
            http://www.hermaninbissmillah.blogspot .com/2009/11/pemikiran ekonomi abu yusuf. Html.


[1] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2004), h. 231
[2] http://abufitriambardi.blogspot.com/2010/09/sejarah-pemikiran-ekonomi-islam-abu.html
[3] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta: Grafindo Persada, 2004), h. 231

[4]  M.  Nazori Madjid, Pemikiran Ekonomi Islam Abu Yusuf 
[5]  Ibid, hal 126

Description: PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ABU YUSUF Rating: 4.5 Reviewer: Firdaus Ahmad - ItemReviewed: PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ABU YUSUF

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar